Belajar dari Para Mentor Terbaik

mas adhita

Oleh: Adhita Sri Prabakusuma, S.P. M.Sc. (Plt. Direktur PPTI FT UNY)

Saat itu, tahun 1916, Tjokroaminoto sudah menjadi Ketua Sarekat Islam, organisasi politik terbesar dan yang pertama menggagas nasionalisme. Di zaman tersebut, Soekarno muda belajar kepada HOS. Tjokroaminoto di rumah Beliau yang berada di sebuah jalan kecil bernama Gang Paneleh VII, di tepi Sungai Kalimas, Surabaya bernomor 29-31. Banyak alumni rumah kos tersebut yang menjadi tokoh pergerakan sebelum kemerdekaan. Soekarno yang kemudian mendirikan Partai Nasional Indonesia. Semaoen, Alimin, dan Musso menjadi tokoh-tokoh utama Partai Komunis Indonesia, serta Kartosoewirjo yang kemudian menjadi pemimpin Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Di rumah itu juga menjadi tempat diskusi tokoh-tokoh Muhammadiyah, seperti KH. Ahmad Dahlan dan KH. Mas Mansyur.

Soekarno mondok di rumah Tjokroaminoto pada usia 15 tahun. Ayah Soekarno, Soekemi Sosrodihardjo, menitipkan Soekarno yang melanjutkan pendidikan di Hoogere Burger School (HBS). Dalam salah satu biografi Soekarno yang ditulis Cindy Adams, Soekarno mengenang Tjokroaminoto sebagai idolanya. Dia belajar tentang strategi politik sebagai alat mencapai kesejahteraan rakyat. Dia belajar tentang bentuk-bentuk modern pergerakan seperti pengorganisasian massa dan perlunya menulis di media. Sesekali Soekarno menulis menggantikan Tjokro di Oetoesan Hindia dengan nama samaran Bima. Soekarno juga kerap menirukan gaya Tjokroaminoto berpidato.

Dalam dunia bisnis global, Steve Jobs, pendiri Apple Computers dan Pixar Animation Studio juga mempunyai mentor-mentor yang menjadi kunci penentu kesuksesan dalam kerajaan bisnis modern yang dibangunnya. Kesuksesan pertumbuhan Apple dikarenakan memiliki 3 ayah angkat. Ayah angkat yang pertama adalah Bill Hewlet dan yang kedua adalah David Packard. Keduanya adalah mentor Steve Jobs dalam bidang hardware. Lalu ayah angkat yang ketiga adalah Nolan Bushnell yang merupakan mentor dalam bidang software. Mentor-mentor tersebut adalah para tokoh yang terbaik di bidangnya.

Saat ia masih di kelas 2 SLTP, Steve Jobs yang masih berusia 13 tahun dan teman-teman satu kelompoknya mendapatkan tugas sekolah untuk membuat rangkaian elektronika. Salah satu temannya berkata, Kita membutuhkan chip untuk membuat rangkaian ini. Chip ini hanya bisa ditemukan di pabrik HP (Hewlett Packard).” Keesokan harinya Steve Jobs datang ke sekolah dengan membawa chip yang mereka butuhkan tersebut. Sontak teman-teman satu kelompoknya pada kaget dan salah satu bertanya “Dari mana kamu dapatkan chip ini?” Jobs menjawab, “Saya telepon Bill Hewlett dan saya minta kepadanya.” Temannya bertanya lagi, “Darimana kamu tahu nomor telpon Mr. Hewlett?”. Dengan ringan Jobs menjawab, “Ada di yellow pages.”

Sore itu Steve Jobs rupanya langsung menelpon rumah Bill Hewlett, pendiri Hewlett Packard bersama David Packard. Jobs dan Hewlett berbicara selama 20 menit dan Jobs tidak hanya mendapatkan chip yang mereka butuhkan, tapi Jobs juga mendapatkan summer job di pabrik HP. Ini adalah awal hubungan akrab antara Steve Jobs dengan Bill Hewlett dan David Packard. Ini merupakan cara yang cukup sederhana. Simple method, simple approach.

Jobs muda membuktikan bahwa kita dapat menembus batas jika kita mau. Kita dapat berhubungan dengan orang yang kita kira unapproachable. Hanya dengan membuka yellow pages dan meneleponnya. Untuk zaman internet ini kita bisa mengirimkan email kepada tokoh yang hendak dijadikan sebagai mentor. Buatlah calon mentor tersebut terkesan dan bersedia akan meluangkan waktu bagi untuk bertemu dengannya.

Tokoh yang berikutnya adalah Nolan Bushnell, CEO Atari. Pada saat Steve Jobs berumur 17 tahun, ia mendatangi kantor Atari. Sebuah perusahaan produsen game console waktu itu. Jobs mengatakan kepada satpam yang menjaga kantor itu bahwa, dia ingin mencari kerja. Hanya saja, dikarenakan penampilannya yang tidak rapi dan kurang meyakinkan, satpam tersebut mengusir Jobs. Steve memilih untuk duduk di trotoar hingga sore harinya. Kemudian akhirnya satpam tersebut menyerah dan pergi menemui Nolan Bushnell, pendiri Atari yang juga CEO-nya. Satpamnya berkata, “Pak, ini ada anak muda minta kerja.” Nolan menjawab, “Suruh dia masuk.”

Nolan kemudian bertanya pada Steve Jobs, “Kamu mau apa?”. Jobs menjawab, “Saya mau kerja.Nolan bertanya lagi, “Kamu bisa apa?”. Jobs menjawab, “Saya tidak bisa apa-apa, tapi saya mau kerja.” Kata kuncinya adalah mau, Jobs mau kerja. Bushnell merespon, “Ok, kalau begitu kamu jadi asisten saya saja.” Mulai saat itu Jobs menemani Bushnell dalam setiap pertemuan-pertemuan penting dan menjadi sangat dekat dengannya.

Jika ilmu dan sumber ilmunya sudah didapatkan, langkah berikutnya adalah memulai untuk action. “Memulai” mungkin saja tidak mudah karena butuh proses, tetapi memutuskan “memulai” dengan penuh kesadaran dan keyakinan itulah yang akan menentukan kemajuan pada proses-proses berikutnya. Seribu langkah tidak akan pernah tercapai bilamana tidak dimulai dari satu langkah awalan, yaitu “memulai.” [adh]

Penyunting: Hamdan Hafizh

About the author: ppti

Leave a Reply

Your email address will not be published.Email address is required.